Selasa, 08 April 2014

Tape Ketela


Bahan                : Ketela pohon, ragi, dan daun pisang
Cara kerja          :
1.     Ketela pohon dikupas dan dicuci sampai bersih.
2.     Kalau sudah dicuci, dikukus sampai matang kurang lebih ½ jam, lalu ketela pohon didinginkan
3.     Ketela pohon yang sudah dingin dimasukkan ke dalam ceting plastik yang dialas daun pisang, kemudian ditaburi ragi hingga rata.
4.     Ketela pohon yang telah diberi ragi ditutup dengan daun pisang kemudian disimpan selama 2 – 3 hari.
5.     Tape ketela siap dihidangkan.

Senin, 07 April 2014

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKHLAK PADA SISWA KELAS IX SMP


A.    Latar Belakang Masalah

Pendidikan di lembaga sekolah tingkat pertama sangat didominasi oleh pelajaran umum seperti IPA dan IPS, sedangkan Pelajaran Agama Islam (akhlak) di lembaga tersebut sangat minim, mulai dari alokasi waktu yang diberikan hanya 2 jam di setiap kelas, guru agama Islam hanya berjumlah beberapa orang, serta buku panduan yang diajarkan di sekolah tersebut juga belum memadai baik dari segi isi buku maupun pengarang buku tersebut.
Melihat dari fenomena tersebut, tentunya akan sangat sulit mencapai tujuan pendidikan keagamaan dengan baik yang ada dalam kurikulum mata pelajaran, dengan waktu yang begitu singkat padahal si anak tidak hanya dituntut mendapatkan materi tentang apa itu akhlak dan berbagai macamnya, tapi justru hal yang paling utama adalah bagaimana cara pengaplikasiannya dalam  kehidupan sehari-hari di  masyarakat. Jika kita meminjapendapat kaum Hedonis, sebagaimana yang di kutip Ahmad Amin, dalam Bukunya yang berjudul Etika (Ilmu Akhlak), maka alokasi waktu tersebut jauh dari cukup, karena pelajaran akhlak menuntut adanya praktik dalam masyarakat, mereka  berpendapat,  Pelajaran  akhlak  mempunyai  pengaruh  yang  besar dalam praktik hidup, karena teori ini membatasi tujuan hidup. Yaitu kebahagiaan perseorangan yang menurut pendapat paham Hedonism atau kebahagiaan     masyarakat     menurut     pendapat     paham     Universalistic Hedonisme (Ahmad Amin, 1975: 134).
Dalam  kehidupan nyata  sendiri,  setiap  manusia  akan  lebih  banyak mendapatkan pendidikan akhlak melalui dunia nonformal, atau lebih pada pemberian contoh dari kaum yang lebih tua, yang terkadang kaum tua sendiri lebih banyak memberikan contoh yang tidak baik. Karenanya sektor pendidikan formal (melalui sekolah) atau nonformal (Pendidikan Pesantren) menjadi solusi yang amat diperlukan oleh masyarakat guna pendidikan akhlak anak. Dengan harapan ketika si anak terjun kemasyarakat ia mampu memposisikan dirinya sebagai manusia yang bisa diterima diberbagai golongan atau usia, dan bahkan harapan yang lebih jauh ia menjadi manusia yang terhormat. Permasalahannya sekarang adalah, apakah dengan tenggang waktu pendidikan yang relatif sedikit atau sebentar tersebut si anak mampu menjawab semua permasalahan yang ada di masyarakatnya yang seiring waktu permasalahan tersebut akan berkembang atau apakah ia mampu menjadi remaja yang diharapkan? Karena pada realitanya masyarakat hanya bisa menuntut hal yang baik.
Dengan mempelajari kasus yang penyimpangan norma pada saat dahulu, serta dibarengi dengan melihat realita perkembangan zaman saat ini, tentunya penanaman nilai-nilai keagamaan sangatlah dibutuhkan dalam proses pendidikan. Apalagi jika merujuk kepada penjelasan diatas, jelas sekali, akan tercipta peluang besar terjadi penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh para siswa. Sebagai contoh kecil, mereka tidak bersikap baik terhadap teman, guru, orang tua, dan lingkungan, apalagi terhadap Tuhan mereka yang abstrak (Zahrudin dan Hasanudin Sinaga, 2004: 19-35).
Dimulai dari kelas satu siswa naik ke kelas dua lalu naik ke kelas tiga yang mana di masa ini siswa kelas tiga berada di masa pubertas atau masa peralihan dari remaja menuju dewasa (umur 13-17 tahun). Hal ini yang sangat dikhawatirkan seharusnya oleh semua kalangan khususnya oleh umat Islam yang  berkecimpung di  dunia  pendidikan. Karena  di  masa  ini  siswa  akan mencoba sesuatu yang mereka belum ketahui akan baik dan buruknya sikap yang mereka lakukan, maka oleh karena itu pendidikan agama harus diutamakan oleh pihak pendidik lebih khusus lagi dalam bidang moralitas atau akhlak.
Berkaitan dengan masalah akhlak, Islam menawarkan berberapa landasan teori yang tertuang dalam al-Quran dan Hadis, yang kesemua itu sudah membuktikan oleh para tokoh Islam, di antaranya Ibnu Miskawaih dan al-Ghazali,  kemudian mereka pun menjadi pemerhati kehidupan manusia dan menjadikan perkembangan akan moralitas atau akhlak manusia umumnya dan khususnya anak remaja sebagai salah satu kajian utamanya. Adapun landasan-landasan tersebut ialah sebagai berikut.
1.      Al-quran
Sesungguhnya  engkau  (muhammad)  berada  diatas  budi  pekerti  yang agung (Q.S. Al-Qalam : 4).
2.      Al-Hadis



 
"Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia"
      (Departemen Agama  RI,  2005: 596)

3.      Menurut ulama dan Tokoh-Tokoh Muslim
  1. Abdul Hamid Yunus
"Akhlak ialah sifat kebiasaan manusia"
(Imam Malik, 1980: 132)

  1. Imam Al Ghazali
“Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripada timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dulu)”.
(Abdul Hamdi Yunus, tt: 436)

  1. Ibrahim Anis

"Akhlak  ialah  sifat  yang  tertanam  dalam  jiwa,  yang  dengannya lahirlah  macam-macam  perbuatan  baik  dan  buruk,  tanpa membutuhkan pikiran dan pertimbangan".
Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, maka sejak itu timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan melalui pendidikan.
Pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan dari generasi ke generasi, sejalan dengan tuntutan kemajua masyarakat.   Apabila   ilmu   pengetahuan   hany dimiliki   oleh segelintir  orang,  akibatnya  akan  terjadi  pembodohan  terhadap  masyarakat yang menyebabkan mudah ditindas bahkan dapat diperbudak oleh kaum yang kuat.
Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan yakin menuntut akhirat tetapi tidak melupakan kepentingan dunia, sebagimana firman Allah dalam QS.Al-Qashash 77:
“Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat  kerusakan  di  (muka)  bumi.  Sesungguhnya  Allah  tidak  menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. AL-Qashash : 77)”.
(Departemen Agama RI,  1995: 623)

Pandangan hidup yang materialitis atau hanya mementingkan keuntungan dunia, mempengaruhi masyarakat yang nampak pada tingkah lakunya dengan meninggalkan amalan-amalan ibadah serta tidak memperdulikan lagi untuk mempelajari Al-Qurían sebagai kitab suci dan mengaplikasikannya dalam kehidupan dunia dan untuk keselamatan di akhirat kelak. Manusia lebih mementingkan waktu dan materi keduniaan, sehingga melalaikan kewajiban utamanya sebagai makhluk Allah swt beribadah dan berakhlak mulia. Maka dalam dunia pendidikan agama tidak bisa dipisahkan, walaupun di SMP/ SLTP banyak pelajaran-pelajaran, akan tetapi setiap mata pelajaran memiliki ciri khas dan karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran lainnya. Begitu juga halnya mata pelajaran pendidikan agama Islam, khususnya di sekolah menengah pertama (SMP). Adapun karakteristik mata pelajaran PAI di SMP adalah sebagai berkut.
1.      Diberikannya mata pelajaran PAI, khususnya di SMP, bertujuan untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Berbudi pekerti yang luhur (berakhlak mulia), dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam lainnya sehingga dapat dijadkan bekal untuk mempelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.

2.      Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu  akidah,  syariah  dan  akhlak.  Akidamerupakapenjabaradari kosep iman; syariah meupakan penjabaran dari konsep Islam, syariah memiliki  dua dimensi kajian pokok,  yaitu ibadah dan muamalah, dan akhlak merupakan penjabaran dari konsep ihsan. Dari ketiga prinsip dasar itulah berkembang berbagai kajian keIslaman (ilmu-ilmu agama) seperti ilmu kalam (teologi Islam, usuluddin, ilmu tauhid) yang merupakan pengembangan dari akidah, ilmu fikih yang merupakan pengembangan dari  syariah,  dan  ilmu  akhlak  (etika  Islam,  moralitas  Islam)  yang merupakan pengembangan dari akhlak, termasuk kajia-kajian yang terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya yang dapat dituangkan dalam berbagai mata pelajaran di SMP.
(Depdiknas, 2004: 2-3)

Dalam proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam (akhlak) di SMP kelas IX disesuaikan dengan silabus, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator dari Departemen Pendidikan Nasional. Anak yang berada dalam masa puber serta belum memahami agama Islam dan fenomena tersebut terjadi di sekolah lanjutan pertama dengan didukungnya mata pelajaran tentang keagamaannya sangat kurang maksimal. Anak akan mudah terjerumus pada perbuatan dosa dan perbuatan maksiat lainnya. Keadaan semacam ini juga dapat menjadi penyebab utama kemerosotan moral, pergaulan bebas, penggunaan obat-obat terlarang, pemerkosaan, pembunuhan, dan berbagai bentuk kejahatan yang kebanyakan dilakukan oleh generasi yang kurang pemahamannya tentang akhlak, kurangnya pendidikan akhlak serta pembinaan akhlak pada anak.
Apabila anak telah memahami hikmah dan pentingnya mempelajari akhlak dengan baik berarti mereka telah dibimbing untuk senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah Swt, yang akan membawa kepada ketenangan  jiwa  dan  akan  timbul  perasaan  takut  bila  hendak  melakukan perbuatan dosa karena ia telah yakin bahwa dirinya senantiasa berada di bawah pengawasan Allah Swt.
Lembaga pendidikan lanjutan pertama sangat dibutuhkan peranannya dalam membantu orang tua serta melanjutkan pemberian pemahaman akhlak serta pembinaan akhlak pada anak didik (remaja awal) yang sudah mereka dapatkan dari sekolah dasar. Karena periode ini merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat, meskipun masa  puber merupakan periode singkayang bertumpang tindih dengan masa akhir kanak-kanak dan permulaan masa remaja. Namun, ciri utama masa ini adalah bergejolaknya dorongan seksual (Netty Hartati, dkk., 2004: 39-40).
Meliha fenomena   di   ata penulis   tertarik   untuk   meneliti   dan membahas dalam penulisan tugas metode penelitian dengan judul:IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKHLAK PADA SISWA KELAS IX SMP”.

B.           Pembatasan
Untuk memperjelas dan mempermudah pokok permasalahan dalam penulisan ini, penulis membatasi masalah sebagai berikut.
Impelementasi  secara  sederhana  adalah  pelaksanaan  atau penerapan. implementasi menurut Mclaughlin (dalam  Mann, 1978). Implementasi  merupakan  aktivitas  yang  saling  menyesuaikan. Implementasi yang penulis maksud adalah bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu  kegiatan  yang  terencana  dan  dilakukan  secara  sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan. Implementasi  berasal  dari  bahasa  Inggris  yang  berarti pelaksanaan, sedangkan dalam Kamus Ilmiah Populer yang berarti penerapan,  pelaksanaan,  karena  luasnya  masalah  pendidikan  agama Islam yang meliputi: Ibadah, Akidah dan Akhlak, Al-Qur'an dan Fiqh, maka dalam pembahasan proposal ini peneliti hanya membatasi pada pembelajaran akhlak siswa Kelas IX dalam pembinaan akhlak siswa di SMP.

C.          Perumusan Masalah

Setelah membatasi masalah dalam penelitian ini, penulis memutuskan masalah sebagai berikut.
Bagaimana implementasi pembelajaran akhlak di SMP?

D.    Tujuan Penelitian

1.      Untuk mengetahui bentuk pembelajaran akhlak di SMP.

2.      Untuk mengetahui pola pembinaan akhlak di SMP.

E.     Kegunaan Penelitian

1.  Untuk mengembangkan disiplin keilmuan yang penulis miliki dan menambah wawasan penulis khususnya, serta pihak lain yang berminat dalam masalah ini.
2. Untuk memberikan masukan bagi sekolah yang diteliti sebagai bahan evaluasi.

F.     Sistematika Penyusunan

Sistematika penyusunan dalam penelitian ini dibagi dalam lima (5) bab, setiap bab dirinci ke dalam sub bab sebagai berikut.
Bab I   :  Pendahuluan, pada bab ini akan diuraikan mengenai  latar belakang masalah, pembahasan dan perumusan masalah, tujuan penulisan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian dan sistematik penyusunan.
Bab II :   Landasan Teori, pada bab ini akan diuraikan mengenai pengertian pendidikan agama Islam, dasar dan tujuan pendidikan agama Islam, pengertian akhlak, pembentukan akhlak, pembinaan akhlak, faktor- faktor yang mempengaruhi pembinaan akhlak.
Bab III :    Metodologi  penelitian,  pada  bab  ini  akan  diuraikan  mengenai pendekatan penelitian, populasi dan sample penelitian, waktu dan tempat penelitian, pengumpulan data yang mencakup angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Bab IV :   Hasil penelitian Pelaksanaan pembelajaran akhlak di SMP pada bab ini diuraikan mengenai pembelajaran akhlak, kurikulum, materi, keteladanan, kendala-kendala, gambaran umum SMP Negeri 9 dan deskripsi data, analisis dan interpretasi data.
Bab V :     Penutup, pada bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan dan saran.